Saturday, July 28, 2012

Belajar dari KOPROL (start-up Indonesia) yang "didepak" dari Yahoo!

    
     Belum juga genap 3 tahun, "bayi" KOPROL ditutup oleh pihak Yahoo!. Usia KOPROL memang terhitung pendek karena hanya bertahan sekitar 2 tahun-an saja. Sejak pertama diakuisi oleh Yahoo! pada tahun 2010 senilai US$10 juta pada saat itu memberikan tamparan telak bagi KOPROL. Situs jejaring sosial berbasis "check in" ini pada awal dibangun 2009 oleh Satya Witoelar memang sangat berharap sekali menjadi situs yang besar dan menjadi terdepan di Indonesia. Walaupun harus head to head dengan Facebook yang penggunanya di Indonesia sangat banyak sekali dan lebih familier. 
    Dilain sisi juga, Yahoo! menutup KOPROL karena banyak alasan yaitu positioning KOPROL yang tidak bisa memberikan kontribusi keuntungan secara signifikan kepada Yahoo!. Apalagi dengan COE baru Yahoo! yang lebih ingin fokus pada konten dan proyek yang hanya menguntungkan saja, maka proyek lain yang sejatinya hanya memberikan kontribusi minim dan tidak berprospek besar bagi mendongkraknya pendapatan Yahoo! maka akan didepak dari yahoo!. Hal ini juga diperkuat karena Yahoo! sedang melakukan "turn arround" dari posisi sekarang yang sepertinya lagi "sakit" dengan merumahkan 2000 karyawan global mereka trmasuk 20 karyawan KOPROL yang dirumahkan. Maka Satya dkk tidak bisa menolak "pemecatan" situs buatan mereka dari Yahoo!. Tepat 28 Agustus 2012 nanti, KOPROL akan resmi ditutup.     
     Para pengguna akan diberitahu untuk mengekspor data-data pentingnya sebelum tanggal tersebut. Dari kejadian ini akan memberikan kita sebuah pelajaran bahwa karya-karya para Start-up anak negeri memang bagus dan kreatif. Namun disaat ada situs yang diakuisi oleh perusahaan dari Silicon Valley maka situs tersebut memang akan naik daun dan menjadi punya posisi yang kuat di pasar, karena ekuitas merek dari si "Bapak" yang mengadopsi "anak angkat" baru. Namun ada hal yang harus diperhatikan yaitu akuisi bukan melulu jalan yang menguntungkan karena kalau saya pikir itu adalah strategi perusahaan si pengakuisi agar bisa memotong jalur kompas lebih cepat mengembangkan perusahaannya. Karena dinilai mungkin akuisi akan lebih murah biaya nya ketimbang harus research dari awal. Nah disini memang perlu dilihat kecocokan antara si pengakuisi dengan yang diakuisi. Supaya bisa kawin kan harus klop visi dan misi nya. Akan menjadi tidak menguntungkan bagi yang diakuisi yaitu pada saat perusahaan utama mengalami masalah yang berimbas pada masa depan situs yang diakuisi. Disaat mereka (yang diakuisi) sangat percaya diri karna dipinang oleh perusahaan besar namun dibalik itu mereka ktar-ktir disaat perusahaan utama brmasalah dan mreka tak punya kontribusi penting untuk perusahaan. Perasaan "zona nyaman" akan tertancap pada diri mereka karena merasa sudah ada yang "merawat". Disisi lainnya juga pada awal diakuisi memang perusahaan newbie tersebut mempunyai dana segar dan seakan mndapat rejeki nomplok, namun menjadi tidak berguna seperti debu yang ditiup hilang begitu saja disaat terjadi masalah seperti ini.
      Jadi disarankan agar para start-up tidak merengek-rengek situs nya dipinang perusahaan besar yang lbih punya pengaruh, namun upaya survive dari diri sendiri mungkin akan menjadi sebuah nilai yang berhaarga bukan hanya material tapi harga diri yang lebih bermartabat karena berdiri di kaki sendiri walaupun untuk mencapai kesusksesan agak sedikit lama. Go Start UP Indonesia!!! 

 note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link website saya. Terimakasih

0 comments:

Post a Comment

Hai teman, gunakan nama dan URL kamu sehingga bisa saya link back lagi nanti, terimakasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget

List rekomendasi