Booming E-Commerce Indonesia pada tahun 2013

Sudah siapkah anda jadi pemain atau penonton perkembangan pesat e-commerce Indonesia?

Dot.com lokal yang berkumpul di #startuplokal

Bagaimanakah perkembangan startup/perusahaan dot.com lokal, sudah sebanyak dan sebesar apa mereka?

Sensasi belanja baju tanpa ruang ganti

Mencoba baju di butik tanpa ruang ganti? hanya bisa dilakukan di depan cermin....

memimpikan indonesia sebagai pioner e-commerce

Masih banyak PR yang harus diselesaikan dan masih banyak hambatan, namun peluang dan prospek terbuka lebar, jika ekosistem e-commerce Indonesia menjadi sempurna

Friday, August 14, 2015

17 Agustus 2045, 1 abad kemerdekaan : a daily story

Jogjakarta, 15 Agustus 2045


            "Alhamdullilah landing mulus, ya mi..", kataku kepada istri. Kami baru tiba di bandara International Jogja di kulonprogo, tepatnya di terminal 2 yang dibangun 10 tahun setelah terminal 1 dibuka, terminal ini khusus untuk penerbangan international. Ya, sejak dibuka akhir 2018, 27 tahun lalu penerbangan dari dan ke Jogja semakin pesat terutama penambahan rute luar negeri langsung sangat banyak mulai dari Singapore, Malaysia, India, Myanmar, Thailand, Australia, China, Jepang, dan kawasan Timur Tengah. Kebetulan istri saya orang Jepang, saya baru saja pulang dari rumah orang tua istri di Kyoto, flight langsung dari Osaka memakai maskapai kebanggan kita, Garuda Indonesia :) .

Jam menunjukkan sudah sore sekitar pukul 16.00 saat saya dan istri keluar gate imigrasi yang canggih dan otomatis. Kami berjalan menuju stasiun Railink yang berada masih dalam kompleks terminal 2, untuk menuju ke arah pusat kota Jogja. Kami hanya menunggu 1 menit lalu kereta datang, kereta buatan INKA ini sangat bagus, bersih, nyaman, dan humanis. Perjalanan menuju Tugu Central Station hanya menempuh 30 menit saja. Sampai di Tugu, putera semata wayang kami sebenarnya akan menjemput namun karena kesibukan persiapan konser akbar 100 tahun kemerdekaan pada tanggal 17 malam besok, maka kami mengalah untuk bertemu saja di tempat latihan yaitu di gedung opera yang bersebelahan dengan hotel Ambarukmo. Kebetulan dia ikut serta dalam orkestra gabungan mahasiswa dan anak sekolah.

Oya...anak saya namanya Arjuna Kimoto, semester akhir kuliah di universitas Kyoto dan punya skills musik yang baik untuk alat tiup saxophone, hahaha... bakat menurun seperti bapaknya dulu yang bisa memainkan baritone di marchingband. "Kimo" panggilan sayang kami ini sudah bertahun-tahun belajar di negeri Jepang sejak SMP. Memang sejak mau masuk SMP saya dan istri sepakat untuk menitipkan Kimo ke eyangnya dan menempuh pendidikan sampai kuliah di Jepang, istri juga bolak-balik Indonesia-Jepang, hanya untuk memantau dan menemani sang buah hati. Saya sebenarnya ingin sekalian stay di Jepang namun usaha bisnis saya di Indonesia yang saya bangun masih membutuhkan perhatian intens dari saya pada saat itu. Tidak seperti sekarang saya sudah sebagai pemegang saham terbesar dan memantau dari belakang layar. Saya dan istri sebenarnya juga sudah membeli rumah di kawasan Sapporo untuk hari tua, namun karena Kimo setelah kuliah selesai ini akan menetap dan berkarya di Indonesia membangun negara tercinta ini, tempat dia lahir, ya.... kami tidak memutuskan untuk pindah. Mungkin setahun sekali kami berkunjung ke Jepang untuk berlibur dan menengok sanak saudara selama sebulan atau dua bulan. 

.........Kami menggeret koper dan menuju stasiun LRT line east-west (elevated) yang masih berada di kompleks superblok Tugu. Tugu saat ini beda dengan yang dulu, sudah menjadi superblok, tidak hanya stasiun kereta saja namun pusat perbelanjaan, hotel, convention hall, dan pusat perkantoran menjadi satu mix used concept yang modern di pusat kota. Bangunan stasiun Tugu tetap dibiarkan menjadi warisan heritage namun untuk bangunan baru dibuat sangat modern dan seakan ada "tabrakan" desain fasadenya....sangat cantik dan brilian. Tugu menjadi central point untuk transportasi massal kota yang sangat digarap maksimal oleh pemerintah daerah saat ini, yaitu BRT Trans Jogja, LRT, dan Aerobus Rail. 

Sekitar 20 tahun lalu, dibuka jalur kereta LRT yaitu rute north-south menghubungkan kawasan satelit selatan kota Jogja sampai Candi Borobudur. Lalu LRT east-west dibuka baru saja 10 tahun yang lalu menghubungkan barat dan Timur dari Jalan Godean sampai Candi Prambanan. Dan baru saja dibuka jalur circle line dalam kota dalam bentuk Aerobus. Aerobus rail ini bentuknya mirip kereta gantung, namun dengan gerbong yang lebih panjang dan besar. LRT dan Aerobus sangat membantu pergerakan warga di kota Jogja terutama orang kantoran dan mahasiswa serta para turis yang akan menjangkau kedua situs budaya tersebut dengan sangat mudah.
 
Kota kami juga dilewati jalur kereta super cepat menghubungkan ke arah Surabaya dan Jakarta namun stasiun-nya berdiri sendiri di dekat bandara lama Adisucipto.  Dengan 25 juta lebih pengunjung wisatawan asing dan domestik setiap tahun, pengelolaan mass transport yang baik sangat dibutuhkan. Beberapa jalur kereta Tram listrik (LRT) dibangun untuk area-area khusus seperti di kawasan kampus UGM-UNY, kawasan seturan, malioboro, kraton, dan sekitarnya. Begitu juga pengelolaan kantong-kantong parkir tersebar merata di beberapa sudut kota Jogja, dan tidak banyak lagi yang menggunakan bahu jalan namun memakai bangunan parkir bertingkat automated terkomputerisasi. Malioboro sekarang juga berbeda seperti 30 tahun lalu, sudah menjadi seperti sebuah plaza outdoor yang besar sangat cantik, bersih, nyaman dan teratur...apalagi sudah menjadi kawasan pedestrian dan revitalisasi kawasan malioboro yang dimulai 30 tahun lalu itu berhasil dan membuat Malioboro dan sekitarnya semakin iconic dan tertata rapi.

.........Selama perjalanan saya merenung betapa kemajuan kota ini sangat pesat sekali, dimulai dari banyaknya hotel dan pusat belanja yang dibangun di awal-awal tahun 2010. Walaupun dulu sempat banyak pro dan kontra, tapi itu konsekuensi dari kemajuan ekonomi. Lalu sekarang pemerintah daerah lebih concern membangun fasilitas dan rekreasi umum seperti gedung opera megah, museum-museum, taman kota besar bernama "Hadiningrat Royal Park" di bekas stadion kridosono dan banyak taman cantik lainnya, pedestrian lebar dan jalur sepeda hampir di setiap ruas jalan. Ya, Jogja memang tidak bisa banyak membuat banyak jalan layang tetapi solusi dilakukan dengan rekayasa lalu lintas dan membuat akses jalan langsung lewat terowongan bawah tanah di beberapa titik padat perempatan. Namun saat ini juga perkembangan kepadatan lalu lintas tidak sepadat dulu jaman saya masih umur 30 an, karena warganya sudah sadar menggunakan mass transport dan kembali ke selera asal yaitu "nggowes" sepeda, hehe. Begitupula polusi sudah sangat minim karena kendaraan mobil dan motor yang lalu lalang termasuk BRT Trans Jogja sudah bertenaga listrik sebagai pengganti bahan bakar minyak.

Gedung-gedung skyscrapper tinggi terlihat di jalan-jalan protokol terutama di kawasan jalan sudirman, jalan solo, jalan monjali, jalan kaliurang, dan kawasan depok. Satu yang menarik adalah Jogja Iconic Tower di kawasan Royal Park, dirancang sangat menarik dan epic dengan tinggi yang menjulang sebagai landmark kota yang modern menemani Tugu yang "old heritage" dan sudah berdiri berabad-abad lamanya. Tower ini berfungsi tidak hanya sebagai pemancar frekuensi dan kumandang azan. Terdapat museum juga yang berisi tentang sejarah kota dan rancangan blueprint masa depan kota ini, restoran, dan area observation deck yang bisa melihat 360 derajat kota ini. Perlu diketahui tower ini sebagai patokan maksimal tinggi bangunan yang ada di kota Jogja.
Jogja dari dulu memang "ngangeni", setiap sudut itu romantis, dulu dan sekarang sampai akhir jaman. Walaupun kemajuan jaman serta banyak artefak fisik berlomba-lomba berdiri namun wisdom lokal masih tidak bisa hilang begitu saja. Bangunan cagar budaya dan heritage tetap dipertahankan bahkan diberi tempat perhatian khusus. Kalaupun ada di suatu jalan gedung-gedung skyscrapper dengan trotoar lebar dan pohonan rimbun itu menjadi sisi "romantis" lain dari kota Jogja. Tak terkecuali kampung-kampung wisata yang sudah ada sejak 30 tahunan lalu tetap dilestarikan bahkan semakin menjadi daya tarik tersendiri. Pertunjukan seni budaya dan upaya pelestarian budaya masih rutin dilakukan apalagi dengan adanya dana istimewa dari pusat rutin tiap tahun digulir sangat membantu sekali agar kebudayaan Jogja lebih berkembang dan mencapai manfaatnya secara sosial dan ekonomi ke masyarakat Jogja.

Kekawatiran akan tergerusnya budaya lokal adiluhung yang terjadi mulai pada masa "bubble" artefak fisik modern sekitar 30-an tahun lalu sama sekali tidak terbukti. Seakan kemajuan jaman itu memperindah dan memperkuat khasanah lokal yang sudah berabad-abad dijaga dan dilestarikan. Yang sederhana saja seperti becak dan andong masih saja mewarnai wajah kota yang syahdu ini. Bedanya hanya di desain yang semakin atraktif, apalagi untuk andong, sekarang sudah ada metode agar "pup dan pipis"-nya si kuda langsung ditampung di sebuah alat yang menempel di kuda dan andongnya, jadi tidak mengotori jalan. Becakpun sudah mengalami modifikasi dengan tenaga semi listrik, jadi "genjotan" si abang becak tidak terlalu "ngoyo", kereeen lah inovasi anak negeri. PKL Angkringan atau warung tenda masih banyak berdiri di beberapa sudut namun kondisinya lebih bersih, modern, dan tertata rapi. Oya, usaha rumah makan di Jogja apapun bentuknya dari restoran sampai kakilima dilakukan inspeksi rutin dari dinas terkait tentang standar SOP baik pelayanan dan kualitas penyajian makanan. Jadi tiap usaha kuliner sekarang ada akreditasinya, ini komitmen pemda agar tetap menjamin konsumen dari segi kesehatan dan kenyamanan serta tetap mengukuhkan kalau Jogja itu tetap surganya kuliner.

..........Kami tiba di stasiun Ambarukmo Plaza dan bergegas jalan melalui skywalk menuju  "Jogja Royal Opera House" yang tak jauh dari stasiun. Kebetulan kendaraan mobil listrik dibawa oleh Kimo dan selesai latihan ini kami akan makan malam bersama di Jogja Iconic Tower sebelum pulang ke rumah.

Aku bangga dengan kota-ku yang humanis dan modern namun masih menjaga khasanah wisdom budaya lokal. Jogja tetap istimewa dan berhati nyaman. 100 tahun kemerdekaan Indonesia dan kami sudah benar-benar merasakan tinggal di negara yang makmur dan sejahtera. Negara ini berhasil melewati banyak rintangan dan perjuangan berat sampai akhirnya mencapai 1 abad kemerdekaan hakiki Indonesia. Selamat ulang tahun bangsaku.... ^_^

author : @dhikawama
sumber gambar : internet 

note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (@dhikawama) dan link blog saya. Terimakasih

Saturday, July 25, 2015

Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 3-end)

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, kami bangun dan bersiap untuk check out karena akan dijemput pukul 8 pagi menuju Chiang Mai oleh van yang telah saya pesan sehari sebelumnya. Van kami pesan dengan harga tiket 500 baht saja per orang, dan ada sekitar 6 orang bule yang ikut bersama kami. Keuntungan memakai jasa van ini lumayan langsung on the cuss gak berhenti2 seperti naik bus, hehe. Jarak Chiang Mai ke Chiang Rai sekitar 4 jam, sempat berhenti sebentar di rest area dan kami masih ingat sampai di hotel Chiang Rai (tempat kami menginap di Chiang Rai) sekitar pukul 1 siang. Sebelum sampai di Chiang Rai kami singgah dulu di Wat Rongkhun atau White Temple yang letaknya berada di jalan utama sebelum masuk kota Chiang Rai dan dekat dengan terminal bus nya. Ya karena kami kemarin request untuk mampir sebentar di candi nya sebelum masuk ke kota akhirnya dikabulkan hehe...dan ternyata penumpang satu van kami malah gak tau ada spot menarik seperti ini. Bule-bule itu cukup terperangah melihat kemegahan white Temple. 

menatap wat Rongkhun :)

White Temple

jalan menuju White temple

              White Temple dibangun oleh Chalermchai Kositpipat. Dibangun mulai tahun 1998 dan sampai sekarang masih dalam tahap pengembangan. Candi ini memang brbeda kebanyakan candi di Thaialnd yang lebih banyak menonjolkan warna kuning dan emas. Kositpipat berani tampil beda dengan memoles seluruh badan kuil candi ini dengan warna putih dan sentuhan kaca-kaca sehingga dari kejauhan tampak berkilau. 
             Sekitar 30 menitan kami berada di candi ini karena sang sopir sudah memberi tahu hanya 40 menit waktu untuk berkeliling candi. Setelah semuanya berkumpul maka van melaju dan tak sampai 5 menit van sudah sampai di terminal bus tempat pemberhentian terakhir. Untuk menuju hotel Chiang Rai kami menggunakan tuk-tuk dengan tarif 150 baht. Setiba di hotel pukul 1 siang, kami langsung titip tas di lobby dan meminta mbak-mbak kasir nya untuk memesankan taxi menuju kawasan Karen Long Neck Village. Saran saya ambil taxi saja untuk menuju desa tersebut karena akses transport disana tidak ada. Harga kisaran 300-400 baht saja untuk PP dan ditungguin sampe puas disana hehe.... Agak cukup jauh dari pusat kota karena desa ini berada di pinggiran kota, namun tidak terlalu lama waktu tempuhnya karena jalanan itu sangat lengang dan lebar....argghhh kota idaman ini.... 
           Masuk ke Karen Long Neck Village harus membayar 500 baht per orang , mehong sih tapi buat saya cukup terbayar karena dari dulu pengen liat suku ini hehe... menurut cerita ini suku sebenernya asli dari Myanmar namun menjadi imigran dan ditampung dan dibina oleh pemerintah setempat di sebuah desa yang mereka diami sekarang. Ada beberapa suku yang mendiami desa ini dan suku yang paling menarik adalah si long neck itu hehe... Hidup mereka bergantung pada kunjungan wisatawan dan barang kerajinan yang mereka jual. Bagus dan indah serta terlampau murah, saya beli kain rajut untuk hiasan di meja hanya sekitar 100 baht saja padahal mereka bikinnya sampe berhari2. Jadi kalau kamu sempet ke desa itu, belilah beberapa kerajinan mereka ya paling gak memabntu perekonomian mandiri mereka. Sempat nyobain juga pake gelang leher itu dan memang berat banget itupun pake gelang yang kecil gimana kalau yang gede ya hadeuh...hidup ini memang berat :( 
Ini beberapa penampakan desa nya :
 
papan penunjuk masuk lokasi desa

iyuuhh itu berat bingitss

mereka hidup dari kerajinan yang mereka buat dan jual

Waktu menunjukkan sekitar pukul 4 sore-an dan kami bergegas untuk menuju mobil taxi yang sopirnya masih terlelap tidur di bawah pohon rindang yang pada saat itu memang lagi sejuk2nya... Gak tega bangunin-nya kami langsung masuk mobil aja eh si sopir langsung gragap bangun seketika...hehe lalu tancap gas kembali ke hotel. Capek seharian perjalanan langsung deh sampai kamar hotel mandi dan istirahat sebentar. Waktu sudah menunjukkan pukul 6, kami bergegas keluar hotel berjalan kaki sedikit ke arah tugu clock tower untuk menyaksikan pertunjukan gratis di clock tower melalui cafe di pojokan jalan yang pas banget view nya langsung tugu itu. 
clock tower
Ini kota kecil tapi cukup kreatif bisa membuat sebuah tugu yang tampak biasa namun diberi sentuhan entertainment berupa permainan lampu dan repertoar lagu setiap pukul 7 malam. Andaikan tugu Jogja seperti ini juga pasti lebih cantik. Setelah puas ngopi2 cantik di kedai lalu kami lanjutkan jalan ke arah night bazaar yang tak jauh dari lokasi. Lagi-lagi saya melihat keseriusan pengelolaan tempat wisata di kota kecil ini, tempat yang kalau siang sepertinya biasa saja disulap menjadi bazaar dengan pertunjukan-pertunjukan seni di dalamnya. Barang-barang jualannya pun cukup murah, makanan-nya pun cukup enak. Setelah puas kalap mata dan perut, kami pulang ke hotel sekitar pukul 10-an malam. Jalan sudah tampak sepi hanya satu dua pengendara mobil lewat, namun kota ini relatif aman dan nyaman serta sejuk, lovable place-lah hehe.
 
gerbang masuk Night Bazaar

#foodporn #foodgasm haha

Keesokan harinya kami check out dan menuju airport pukul 10 siang untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja via transit Bangkok dan Jakarta....capek tapi seneng..., Thailand negara yang masih membuat aku penasaran untuk datang lagi, ini kunjunganku ke 3 kali di Thailand dan sepertinya akan sering ke sana :) untuk melihat keeksotisan dan belajar bagaimana sebuah negara mengelola pariwisata nya dengan sangat serius. 

Baca juga : Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 1)
                   Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 2)

note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link blog saya. Terimakasih


 

Tuesday, May 26, 2015

Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 2)

 
Akhirnya sampai juga di Chiang Mai tepat waktu loh... pukul 10.00 pagi, udara di Chiang Mai juga masih sangat segar karena berada di wilayah utara Thailand. Keluar stasiun dan mencari tuk-tuk menuju hotel. Perlu diketahui stasiun Chiang Mai adalah stasiun paling utara Thailand, dan merupakan akhir perjalanan semua kereta api yang menuju ke wilayah utara Thailand.

fasade depan Sclupture hotel
kamar di Sclupture hotel
         
            Belasan sopir Tuk-tuk sudah menghampiri kami berdua selepas keluar dari pintu stasiun..., dengan bahas khas ngapak mereka, kami hanya senyam-senyum doang dan akhirnya menunjuk satu sopir Tuk-tuk yang beruntung kami pilih hehe.... Dia langsung nanya mau kemana dan saya jawab ke daerah old city jalan Rachadamnoen tepatnya di Sclupture Hotel. Hmm...sepertinya si bapak sopir bingung dan sempat nanya ke temennya. Lajulah Tuk-Tuk kita menuju hotel, jarak dari stasiun ke kawasan old city cukup dekat dan lancar jaya hanya sekitar 10 menit. Kawasan old city adalah kawasan kota lama chiang mai yang banyak terdapat hotel-hotel cukup murah, cafe, toko-toko jual asesoris dan fashion murah serta kuil-kuil yang bertebaran di seluruh kawasan. Sepertinya saya tidak salah pilih tempat nginep karena dekat mau kemana2. Tuk-tuk berhenti di depan hotel dan kami membayar 150 baht sekali jalan dari stasiun ke kawasan old city. Hotelnya cukup nyaman kami untuk semalam disini. Eksterior depan futuristik dan beda tema tiap kamar. Masih terlalu pagi untuk kami check in, ya udah deh nitip tas dulu lalu cuci2 muka langsung cusss keliling old city. 

Chiang Mai Art Cultural Center
        
biar kekinian, selfie ama sobat dulu hehe...
Belum juga kami keluar pintu hotel, disamperin ama ibu-ibu ternyata dia yang jaga kios kecil depan hotel yang menawarkan paket-paket wisata di chiangmai dan juga van yang besoknya akan membawa kami menuju Chiang Rai. Namanya ibu "Nong" , dia dengan senang hati membagikan peta kota Chiang Mai gratis kepada kami. Wah lumayan ini buat arahan walking tour kami berdua. Ok tanpa babibu langsung aja kami jalan...rute pertama jalan kaki kami adalah Chiang Mai Art Cultural Center yang di depannya ada Three Kings Monument, namun sayang seribu malang museumnya tutup karena hari itu hari senin.....arrrgghh...menyebalkan. Padahal menarik isinya selain seni dan sejarah Thailand juga ada rencana blueprint kota Chiang Mai sampai beberapa puluh tahun kedepan, mantap deh..... 
trotoar nyaman untuk pejalan kaki
            Karena sudah kelaperan pas jam 12 siang akhirnya kami mampir sevel dulu seperti biasa beli makan makanan beku yang cukup murah meriah, ternyata bertepatan juga pas jam istirahat anak-anak sekolah setara smu kayaknya soalnya yang cowok pake celana pendek warna biru dan udah gede-gede badannya. Depan sevel persis sekolahannya dan gak jauh dari museum tadi cuman melewati satu perempatan aja. 
Thapae Gate
          Perjalanan selanjutnya adalah menuju Wat Chiang Man, tetep jalan kaki karena deketan dan nyaman berjalan kaki di dalam old city. Wat Chiang Man ini adalah salahsatu kuil tertua di Thailand. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Thapae Gate, sebuah gerbang masuk old city. seperti biasa photo-photo dulu hahaha. Cukup menarik aktivitas kehidupan di kota Chiang Mai ini. Saya bisa bilang Chiang Mai kondisinya seperti kota Jogja sebelum tahun 2000, cukup sepi tidak banyak mobil dan motor. Transportasi tradisional masih dipertahankan seperti saam lor atau becak khas kota Chiang Mai. Tadinya sempat mau sewa sepeda disana cukup murah sih (kisaran 100-300 baht) tapi harus menyediakan deposit 1000 baht hadeuh padahal duit udah cekak banget sisa sisa terakhir. Ya sudah diurungkanlah untuk nggowes cantik keliling kota. hmm.... 
saam lor becak khas Thailand
         Waktu menunjukkan pukul 2 siang kami berjalan kembali ke hotel untuk check in, mandi dan istirahat sebentar. Kira-kira pukul setengah 5 sore kami berjalan kembali menyusuri old city kali ini ke kuil terbesar di Chiang Mai yaitu Wat Chadi Luang yang searah jalan Rachadamnoen. Uniknya disini kalau tiap sore ada ritual keliling candi semacam pradaksina gitu oleh bikshu-bikshu Buddha sambil membunyikan lonceng di sisi-sisi candi, cukup menarik untuk atraksi wisata. 
Wat Chadi Luang
             Selesai dari sini kami berjalan sampai ujung jalan Rachadamnoen sambil menikmati window shopping sesekali memotret sesuatu yang unik. Kira-kira pukul 7 malam kami kembali ke hotel. Rencananya sih sekitar pukul 8 kami ingin menuju ke night bazaar namun apa daya kami sudah tepar semua di kamar, mungkin akumulasi capek dari hari pertama datang berkunjung di Bangkok. Akhirnya kami putuskan untuk stay di kamar istirahat sampai pagi untuk menuju ke kota Chiang Rai. 


Baca juga : Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 1)
                   Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 3)

note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link blog saya. Terimakasih

Monday, January 12, 2015

Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 1)

Hai piknikers, apa kabar kalian semuanya, semoga masih sehat dan bisa tetap jalan-jalan. Di sesi ini saya kembali akan mengisahkan (dongeng kali, hahaha) perjalanan darat saya dan apa yang saya lakukan di Chiang Mai dan Chiang Rai. Ya..., akhirnya saya bisa berpetualang di dua kota besar paling utara Thailand. Sebenernya ini rangkaian trip yang saya lakukan bersama 4 sahabat saya. Akhirnya kami punya waktu untuk "me time" bersama, pada sibuk syuting sih ya kalian ini...hmmm. 
           Back to the topic, rencana awal adalah trip dua minggu yaitu Yangoon-Bagan-Mandalay-Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai namun karena ada sesuatu yang harus diselesaikan secara mendadak maka trip Myanmar (Yangoon-Bagan-Mandalay) di skip, hikzzz...padahal mupeng banget sama Bagan katanya sunrise nya cantik buangeett...tapi ya sudah lain kali saja. Perjalanan akhirnya dari Bangkok. Lagipula tiket juga gratis free seat...hmmm nggak gratis juga sih masih bayar per flight antara 200-300 ribu untuk pajak, dll. Ya...tiket gratis AirAsia digelar biasanya setahun sekali di menjelang akhir tahun untuk periode terbang sethaun kedepan. Anyway, thanks AirAsia... :)
         Ok karena saya pernah ke Bangkok sebelumnya dan sudah saya share pengalamannya lewat buku saya "Rapid traveler: habiskan 2 minggu jelajah 5 negara ASEAN" bisa download disini. Maka saya nggak menulis lagi tentang Bangkok secara detail, mungkin di lain tulisan akan share rekomendasi atraksi wisatanya dan review singkat saja, hehehe. Ok :)

Sleeper Class Train menuju Chiang Mai 


Perjalanan dari Bangkok bisa ditempuh dengan kereta atau pesawat. Namun karena saya ingin merasakan jalan darat maka kereta jadi pilihan saya. Kereta malam dari Bangkok berangkat pukul 19.35 dan sampai di Chiang Mai pukul 10.00 keesokan harinya. Durasi memang sangat lama namun kereta ini cukup nyaman dijadikan pilihan transportasi. Sebenernya ada banyak kereta menuju Chiang Mai, namun yang ada kelas sleeper nya hanya dua jadwal yaitu pukul 18.10 dan pukul 19.35. Kereta di Thailand paling utara hanya mentok sampai Chiang Mai. Denger-denger akan dibangun bullet train menyambungkan Chiang Mai-Bangkok-Pattaya, lalu dari Chiang Mai nyambung lewat Laos dan berakhir di salahsatu kota besar di selatan China, wow! Indonesia kapan? apakabar Jakarta-Bandung yang mau dibikin Bullet train nya?
ticket issued Bangkok-Chiang mai 1st class
          Harga tiket untuk yang pukul 18.10  --> 1st class, 1 kabin isi 2 ranjang upper (1253 baht) dan lower (1453 baht) dan untuk 2nd sleeper class 1 gerbong (tidak ada cabin room) bisa lebih dari 30 ranjang, upper (791 baht) dan lower (881 baht).
               Harga tiket untuk pukul 19.35  --> 1st class 1 kabin isi 1 ranjang dengan connecting door kabin sebelahnya, 1-2 , 3-4, dst harga 1953 baht dan 2nd class upper (791 baht) dan lower (881 baht) isi tiap kabin 4 ranjang.
         Pada awalnya saya menginginkan tiket 1st sleeper class kereta pukul 18.10 namun sudah sold out. Karena hanya berdua yang melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai dan Chiang Rai maka diputuskan untuk beli yang satu kabin isi 2 orang.  Namun di suggest mbak penjual tiketnya untuk ambil 2nd sleeper class dulu, nanti kalau ada yang membatalkan di kelas 1st pada hari go show maka bisa upgrade di loket stasiun. Ok, manut wae lah.       
          Setelah di hari go show, ternyata tak ada satupun yang membatalkan tiket, tapi si mbak penjual tiket memberikan suggest ke kami untuk ambil 1st class yang pukul 19.35, hmmm tanpa pikir panjang ya sudahlah saya ambil itu tiket walaupun harganya hmmm lebih mahal dari naik pesawat, hampir 1 juta rupiah...beuh... Karena saya pecinta kereta ya tidak masalah lah ngeluarin duit segitu banyak hehehe. Agak kecewa sedikit sih dengan fasilitas yang didapatkan dengan harga segitu. No meal, dan gerbongnya ex Japan yang tua dan fasilitas minim hanya ada wastafel, meja kecil, selimut,bantal,matras tambahan untuk kasur, namun dengan fasilitas minim itu masih sangat nyaman. Paling nggak, mbok ya direstorasi sedikit dengan diberi televisi dan WC shower dalam cabin seperti yang dipunyai kereta dari Singapore ke KL. 
cabin 1st class, cukup lega!
            Jadwal kereta menuju Chiang Mai bisa cek link bawah ini, bisa booking 60 hari sebelum sampai 4 hari sebelum departure, tiket bisa ambil sendiri atau diantar ke hotel (kena charge). Jika diambil maka kantor ada di dekat Lumphini Park, denah dan alamat ada di situsnya. Saran saya kalo mau ambil 1stclass jauh-jauh hari ya suka fullbooked soalnya, http://www.thailandtrainticket.com/
lorong kabin, 1st class hanya 1 gerbong saja di rangkaian akhir
             Karena tidak dikasih makan di kereta, mau nggak mau saya beli makan di atas kereta yang lumayan mahal sih kisaran antara 100-300 baht menu set. Daripada kelaparan ya udah beli aja deh. Saran sih bawa makanan dari luar saja, di stasiun banyak kok yang bisa dicangking ke dalam kereta dari bread sampe makan besar. Sepanjang perjalanan saya habiskan untuk tidur, entah mengapa kok nyaman banget dan tiba-tiba aja sinar matahari udah nongol di jendela, hehehe. Yang perlu diprhatikan AC nya itu adeeemm buanget...jadi saya matikan AC kabin nya dan hanya memakai AC yang masuk dari fentilasi pintu kabin yang berasal dari AC lorong kabin, itu sudah cukup. Pemandangan pagi di sepanjang perjalanan cukup fantastis banyak bukit-bukit, lembah, sungai, rumah tradisional yang bagus-bagus, dan itu sangat menghibur saya. 
          Akhirnya sampai juga di Chiang Mai tepat waktu loh pukul 10.00 pagi, udara di Chiang Mai juga masih sangat segar karena berada di wilayah utara Thailand. Keluar stasiun dan mencari tuk-tuk menuju hotel.
warna purple kesukaan ibu ratu Sirikit :)
Baca juga : Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 2)
                   Akhirnya bisa ke Chiang Mai dan Chiang Rai juga! (part 3)

note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link blog saya. Terimakasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget

List rekomendasi