Booming E-Commerce Indonesia pada tahun 2013

Sudah siapkah anda jadi pemain atau penonton perkembangan pesat e-commerce Indonesia?

Dot.com lokal yang berkumpul di #startuplokal

Bagaimanakah perkembangan startup/perusahaan dot.com lokal, sudah sebanyak dan sebesar apa mereka?

Sensasi belanja baju tanpa ruang ganti

Mencoba baju di butik tanpa ruang ganti? hanya bisa dilakukan di depan cermin....

memimpikan indonesia sebagai pioner e-commerce

Masih banyak PR yang harus diselesaikan dan masih banyak hambatan, namun peluang dan prospek terbuka lebar, jika ekosistem e-commerce Indonesia menjadi sempurna

Saturday, July 28, 2012

Belajar dari KOPROL (start-up Indonesia) yang "didepak" dari Yahoo!

    
     Belum juga genap 3 tahun, "bayi" KOPROL ditutup oleh pihak Yahoo!. Usia KOPROL memang terhitung pendek karena hanya bertahan sekitar 2 tahun-an saja. Sejak pertama diakuisi oleh Yahoo! pada tahun 2010 senilai US$10 juta pada saat itu memberikan tamparan telak bagi KOPROL. Situs jejaring sosial berbasis "check in" ini pada awal dibangun 2009 oleh Satya Witoelar memang sangat berharap sekali menjadi situs yang besar dan menjadi terdepan di Indonesia. Walaupun harus head to head dengan Facebook yang penggunanya di Indonesia sangat banyak sekali dan lebih familier. 
    Dilain sisi juga, Yahoo! menutup KOPROL karena banyak alasan yaitu positioning KOPROL yang tidak bisa memberikan kontribusi keuntungan secara signifikan kepada Yahoo!. Apalagi dengan COE baru Yahoo! yang lebih ingin fokus pada konten dan proyek yang hanya menguntungkan saja, maka proyek lain yang sejatinya hanya memberikan kontribusi minim dan tidak berprospek besar bagi mendongkraknya pendapatan Yahoo! maka akan didepak dari yahoo!. Hal ini juga diperkuat karena Yahoo! sedang melakukan "turn arround" dari posisi sekarang yang sepertinya lagi "sakit" dengan merumahkan 2000 karyawan global mereka trmasuk 20 karyawan KOPROL yang dirumahkan. Maka Satya dkk tidak bisa menolak "pemecatan" situs buatan mereka dari Yahoo!. Tepat 28 Agustus 2012 nanti, KOPROL akan resmi ditutup.     
     Para pengguna akan diberitahu untuk mengekspor data-data pentingnya sebelum tanggal tersebut. Dari kejadian ini akan memberikan kita sebuah pelajaran bahwa karya-karya para Start-up anak negeri memang bagus dan kreatif. Namun disaat ada situs yang diakuisi oleh perusahaan dari Silicon Valley maka situs tersebut memang akan naik daun dan menjadi punya posisi yang kuat di pasar, karena ekuitas merek dari si "Bapak" yang mengadopsi "anak angkat" baru. Namun ada hal yang harus diperhatikan yaitu akuisi bukan melulu jalan yang menguntungkan karena kalau saya pikir itu adalah strategi perusahaan si pengakuisi agar bisa memotong jalur kompas lebih cepat mengembangkan perusahaannya. Karena dinilai mungkin akuisi akan lebih murah biaya nya ketimbang harus research dari awal. Nah disini memang perlu dilihat kecocokan antara si pengakuisi dengan yang diakuisi. Supaya bisa kawin kan harus klop visi dan misi nya. Akan menjadi tidak menguntungkan bagi yang diakuisi yaitu pada saat perusahaan utama mengalami masalah yang berimbas pada masa depan situs yang diakuisi. Disaat mereka (yang diakuisi) sangat percaya diri karna dipinang oleh perusahaan besar namun dibalik itu mereka ktar-ktir disaat perusahaan utama brmasalah dan mreka tak punya kontribusi penting untuk perusahaan. Perasaan "zona nyaman" akan tertancap pada diri mereka karena merasa sudah ada yang "merawat". Disisi lainnya juga pada awal diakuisi memang perusahaan newbie tersebut mempunyai dana segar dan seakan mndapat rejeki nomplok, namun menjadi tidak berguna seperti debu yang ditiup hilang begitu saja disaat terjadi masalah seperti ini.
      Jadi disarankan agar para start-up tidak merengek-rengek situs nya dipinang perusahaan besar yang lbih punya pengaruh, namun upaya survive dari diri sendiri mungkin akan menjadi sebuah nilai yang berhaarga bukan hanya material tapi harga diri yang lebih bermartabat karena berdiri di kaki sendiri walaupun untuk mencapai kesusksesan agak sedikit lama. Go Start UP Indonesia!!! 

 note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link website saya. Terimakasih

Monday, July 16, 2012

South Korea : A Nation for watch


 Apa yang kita bisa pelajari dari perjuangan bangsa Korea dan pengembangan ekonominya?
Survive in every time (Learn)
Banyak hal yang bisa kita petik sebagai pelajaran dan cambukan bagi kita bangsa Indonesia memamandang kesuksesan yang begitu hebat bangsa Korea dari dekade ke dekade menantang zaman.
     
Seoul city view (resource:internet)
     Korea selatan menjadi besar seperti sekarang adalah karena dukungan lingkungan internal dan eksternal yang secara “paksa” mengharuskan Korea Selatan untuk berubah. Jika dilihat dari sejarahnya kekaisaran terakhir runtuh pada tahun 1910 yang dianeksasi oleh Jepang, lalu berlanjut pada setelah perang dunia ke dua, Korea secara umum dibagi menjadi dua yaitu Korea Selatan (dibawah pengaruh USA) dan Utara (dibawah pengaruh Uni Soviet). Memberikan sejarah perjalanan panjang yang cukup kelam karena selalu dirundung ketidakpastian iklim politik dan ekonomi di wilayah Korea. Mereka sebenarnya menghadapi kekuatan yang mengepung wilayahnya dari timur ada Jepang yang selalu “berperang” dari sektor ekonomi. Dari utara, saudara “tiri”mereka sendiri yaitu Korea Utara yang tidak segan-segan setiap waktu menyerang Korea Selatan dengan kekuatan militer yang lebih hebat. Lalu di barat ada gempuran negara Cina dalam hal perdagangan. Hal ini menjadi suatu faktor utama Korea Selatan mau tidak mau harus berbenah dan berubah memposisikan diri sebagai negara yang lebih kuat dari sektor ekonomi pada umumnya.
2.   Keterbatasan Sumber daya alam menjadi faktor lain yang membuat Korea Selatan berpikir dan bekerja keras untuk tetap hidup di tengah kondisi dunia yang tidak menentu. Korea Selatan memberi bukti bahwa dengan keterbatasan yang ada berhasil menjadi salahsatu yang terdepan dalam ekonomi. Mereka akhirnya fokus pada ekonomi yang berbasis teknologi seperti elektronik rumahtangga, kendaraan mobil, sampai pengaruh budaya K-Pop yang menjadi demam sampai Indonesia.
3.    Budaya satu Korea Selatan yang kuat adalah menjadi faktor pendorong yang sangat kuat. Korea Selatan menjadi jelas identitasnya dengan satu suku utama yang menjadi semacam faktor kepercayaan diri yang kuat untuk bersatu dan memajukan Korea Selatan.
4.   Pemimpin Korea Selatan juga mampu mengolah manajemen krisis yang sangat hebat ke semua lini sektor kehidupan warga Korea Selatan bahwa “kita berada di kehidupan yang tidak pasti, namun kita harus memastikan diri untuk menjadi yang terdepan di dunia”, mungkin kata-kata itu yang selalu ada di benak tiap warganya.
5.   Budaya kerja keras bangsa Korea Selatan. “Bbalri-bbalri” atau “cepat-cepat” menjadi sebuah jargon yang selalu dikatakan sehari dua kali oleh orang Korea Selatan untuk memacu “adrenalin” dalam mereka menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu hari. Ada yang unik dalam konsep “menyelesaikan pekerjaan” oleh warga Korea Selatan, mereka selalu menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu hari dan tidak ada pemisahan status kehidupan pribadi dan pekerjaan. Dalam hal ini ya mereka bisa saja menginap di kantor dan membawa urusan pribadi dikantor, kalau dibanding dengan ekstrimisme orang Amerika sekalipun tidak demikian. Mungkin ini bisa jadi hal positif (pekerjaan cepat selesai) dan negatif (tidak ada privasi pribadi). That’s them call “we are South Korea!”

    Bagaimana Indonesia mampu mengejar ketertinggalan ekonomi dibanding Korea?
Follower or trendsetter for Indonesia to catch up the South of Korea?

Sebenarnya banyak hal yang bisa dijadikan “senjata” bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari Korea Selatan seperti sumber daya alam melimpah, penduduk yang padat, tingkat usia produktif yang lebih banyak ketimbang usia lanjut (tidak seperti di Jepang). Namun yang terjadi malah sebaliknya, Indonesia saat ini mengalami sakit kronis yang harus cepat diobati. Korupsi merajalalela, krisis kepemimpinan, tidak mempunyai visi yang jelas, dan merasa berada di zona nyaman yang justru pada akhirnya membuat semuanya tak berkembang malah mundur! Kalau bisa dibandingkan dengan Korea Selatan pada dekade 70-an, kondisinya sama dengan Indonesia pada saat ini.  
Namun apakah dengan perbandingan semacam itu 30 tahun lagi Indonesia bakal maju seperti Korea Selatan? Bisa dikatakan “benar” jika harus ada revolusi secara besar-besaran dari segala lini, menciptakan manajemen krisis yang tepat dan pemimpin yang tegas dan konsisten, birokrat yang jujur dan loyal dalam bekerja untuk negara. Karena pada saat ini sumber-sumber ekonomi sebagian besar “dijajah” oleh bangsa asing, pemimpin yang berjiwa besar harus berani mengambil keputusan untuk menasionalisasi kembali sumber tersebut dan memberikannya pada tangan-tangan putra-putri Indonesia. Jangan bicara kualitas dulu yang penting semangat dalam membangun, bekerja keras, dan loyalitas pada negara itu modal utamanya, dan disayangkan satu poin terakhir tersebut tidak banyak ada pada pribadi masing-masing. Kualitas itu mengikuti dibelakangnya. Tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam yang ada namun juga kulaitas sumber daya manusia yang perlu diasah dan dijadikan “kekuatan utama” dalam membangun bangsa. Kalau boleh dibilang bangsa Indonesia itu pintar dan kreatif itu ada benarnya namun disayangkan tidak ada media yang tepat dan pas untuk memanfaatkan “orang-orang pintar” tersebut. We don’t have a lot of “the right man in the right place!”.
Pada intinya kalau kita tidak berpegang pada Pancasila kembali, akan sangat susah Indonesia bisa maju seperti bangsa-bangsa lain. Karena hanya Pancasila yang bisa menjadi dasar negara yang tepat untuk membangun bangsa dan negara ini. Kesimpulannya Indonesia itu bisa berubah dan bergerak maju dengan modal yang saya paparkan sebelumnya namun jika kondisi pengelolaan manajemen strategi yang tidak tepat dan kepemimpinan yang mlempem seperti sekarang, tinggal tunggu kehancuran negara ini saja. Apa perlu hancur dulu baru berbenah dari awal?

   Apa yang menjadi tantangan bisnis keluarga di Indonesia untuk berkembang dan bertahan di lingkungan bisnis yang kurang didukung negara?

Challenge to be winner for family company in Indonesia
Perlu diketahui perusahaan-perusahaan besar di Indonesia sekarang adalah merupakan perusahaan keluarga yang dibangun dari nol. Mereka memberikan kontribusi besar bagi negara dalam hal ekonomi. Kalau dilihat kebanyakan taipan-taipan di Indonesia adalah berasal dari keluarga-keluarga keturunan China. Itu berkembang mula pada zaman Soeharto yang memberikan angin segar bagi perusahaan keluarga dari kalangan keturunan Tionghoa tersebut untuk berkembang. Pada saat ini mereka menguasai lini sektor penting pada retail, produk rumahtangga, rokok, sampai perumahan.
Kalau dibanding dengan Korea Selatan, mereka ada Samsung, LG, Lotte Mart, atau Hyundai yang berawal dari bisnis keluarga berkembang menjadi sebuah kerajaan bisnis besar Korea Selatan yang di back-up sepenuhnya oleh pemerintahnya dengan membentuk konsorsium konglongmerasi dewan Chaebol. Kelebihannya memang pada akhirnya dewan Chaebol ini menjadi sebuah kekuatan ekonomi Korea Selatan yang dapat menggempur kekuatan perusahaan kaliber dunia lain. Di sisi lain juga mereka pada akhirnya membentuk merek kuat ekonomi baru Korea Selatan. Namun pada akhirnya juga industry kecil yang akan berkembang di Korea Selatan akan dicaplok oleh Chaebol ini sehingga iklim persaingan dalam negeri jadi tidak sehat karena adanya monopoli.
Jika dilihat perkembangan perusahaan keluarga di Indonesia sebenarnya banyak yang cukup bertahan dan berkembang menjadi besar baik itu didukung (di back-up) oleh pemerintah atau tidak mereka juga akan tetap bertahan. Faktor harga diri keluarga besar mereka mungkin yang menjadi dorongan kuat bagaimanapun bentuk kondisi eksternal bisnis yang tidak menentu, mereka akan tetap survive dengan segala cara. Walaupun di satu sisi ada perusahaan keluarga yang punya link kuat ke pemerintah dan menjadi besar itu cerita lain. Namun saya memberi kesimpulan bahwa perusahaan keluarga di Indonesia itu bisa besar atau bertahan saat sekarang ya dengan “cara” dan “tradisi” keluarga mereka sendiri-sendiri, walaupun itu tanpa dukungan dari pemerintah sekalipun. Yang pasti perlu diingat adalah kontribusi ekonomi Indonesia sebagian besar terbentuk dari perusahaan keluarga.
case study matkul Manajemen perusahaan keluarga pascasarjana MM UII Jogjakarta 

note : jika ingin menyadur sebagian atau secara keseluruhan bagian artikel ini dipersilahkan namun harap mencantumkan nama saya (astawama) dan link website saya. Terimakasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget

List rekomendasi